Pendidikan adalah pondasi masa depan, dan memastikan keberlangsungannya di tengah situasi bencana adalah kewajiban kita semua. Kabupaten Pidie, yang sering kali menghadapi tantangan cuaca ekstrem, baru-baru ini menyaksikan sebuah gerakan inspiratif dari kelompok intelektual muda. Dengan mengusung semangat Pidie Tanggap, Mahasiswa BAPOMI Salurkan Bantuan Alat Tulis untuk Sekolah yang tergabung dalam organisasi BAPOMI bergerak serentak untuk memberikan perhatian khusus pada sektor pendidikan yang sering kali terabaikan saat masa tanggap darurat bencana sedang berlangsung.
Gerakan ini dilatarbelakangi oleh kenyataan bahwa saat banjir atau bencana lainnya melanda, banyak fasilitas pendidikan yang terdampak. Banyak siswa yang kehilangan perlengkapan sekolah mereka karena terendam air atau rusak tertimbun lumpur. Melihat kondisi tersebut, para mahasiswa BAPOMI merasa perlu untuk mengambil langkah nyata. Mereka melakukan penggalangan dana khusus yang tujuannya adalah memulihkan semangat belajar anak-anak di daerah terdampak. Mahasiswa percaya bahwa bantuan tidak hanya soal perut, tetapi juga soal masa depan intelektual generasi penerus.
Kegiatan inti dari gerakan ini adalah saat tim mahasiswa mulai melakukan proses salurkan bantuan ke berbagai sekolah yang telah didata sebelumnya. Proses pendataan ini dilakukan dengan saksama agar bantuan yang diberikan tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing sekolah. Mahasiswa berkoordinasi dengan pihak kepala sekolah dan guru untuk memastikan bahwa anak-anak yang paling membutuhkan mendapatkan prioritas utama. Kerja sama yang baik ini membuat distribusi bantuan berjalan lancar tanpa hambatan birokrasi yang berarti.
Fokus utama dari donasi yang dikumpulkan adalah penyediaan alat tulis dan perlengkapan sekolah lainnya. Paket yang dibagikan meliputi buku tulis, pena, pensil, tas sekolah, hingga seragam bagi mereka yang pakaian sekolahnya sudah tidak layak pakai akibat bencana. Bagi anak-anak di desa-desa terpencil di Pidie, bantuan ini bukan sekadar alat untuk menulis, melainkan sebuah simbol harapan bahwa mereka tidak sendirian dalam menghadapi masa sulit. Senyum yang terpancar dari wajah para siswa saat menerima bantuan tersebut menjadi energi tambahan bagi para mahasiswa untuk terus berkontribusi.
Kondisi gedung sekolah yang terdampak juga menjadi perhatian para mahasiswa. Selain membagikan alat tulis, mereka juga bahu-membahu bersama warga sekitar untuk membantu membersihkan ruang-ruas kelas dari sisa-sisa banjir agar proses belajar mengajar dapat segera dimulai kembali. Kepedulian ini menunjukkan bahwa mahasiswa memiliki keterikatan batin yang kuat dengan masyarakat sekitar. Mereka tidak ragu untuk mengotori tangan dan pakaian mereka demi memastikan adik-adik di tingkat sekolah dasar dan menengah dapat kembali ke bangku sekolah dengan nyaman.
