Penanganan cedera akut di lapangan pertandingan membutuhkan tindakan yang cepat, tepat, dan berbasis metode medis yang sahih guna mencegah kerusakan jaringan yang lebih parah. Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia (Bapomi) Pidie menerbitkan protokol kesehatan khusus mengenai tata cara pertolongan pertama pada cedera olahraga (first aid). Protokol ini disusun berdasarkan riset kinesiologi terbaru untuk memberikan panduan praktis bagi tim medis ormawa di tingkat universitas. Sebagai bagian dari edukasi pencegahan trauma kronis, tim kesehatan merujuk pada prinsip dasar dalam membatasi persepsi pegal melalui optimalisasi sistem saraf tepi manusia. Melalui sosialisasi ini, langkah tepat Bapomi Pidie diwujudkan dengan melatih para relawan medis lapangan untuk menerapkan terapi es secara benar sesuai prosedur.
Efek Fisiologis Krioterapi Terhadap Pembuluh Darah dan Jaringan Otot
Cedera benturan keras atau keseleo yang terjadi di tengah pertandingan sering kali menyebabkan pecahnya pembuluh darah kapiler di dalam otot, yang memicu pembengkakan dan rasa nyeri hebat. Melalui penerapan kompres es dingin, suhu lokal pada jaringan yang mengalami trauma akan menurun secara drastis dalam waktu singkat. Penurunan suhu ini memicu reaksi vasokonstriksi atau penyempitan diameter pembuluh darah secara instan di sekitar area yang mengalami cedera.
Proses penyempitan ini sangat efektif untuk menghentikan pendarahan internal yang terjadi di bawah kulit, sehingga mampu melokalisasi dampak kerusakan jaringan. Sensasi dingin yang intens juga bekerja menghambat kecepatan hantaran sinyal nyeri pada serabut saraf aferen menuju pusat kesadaran di otak. Efek mati rasa sementara ini sangat membantu untuk matikan rasa memar dan memberikan efek relaksasi psikologis bagi atlet yang sedang mengalami kepanikan akibat cedera di lapangan.
Prosedur Aplikasi Terapi Dingin yang Aman di Area Pertandingan
Meskipun terapi dingin ini memiliki manfaat yang sangat besar, Bapomi Pidie mengingatkan para praktisi medis lapangan untuk selalu memperhatikan durasi dan media pembungkus es yang digunakan. Es tidak boleh ditempelkan secara langsung bersentuhan dengan kulit telanjang karena dapat menyebabkan cedera jaringan akibat suhu beku (ice burn). Es wajib dibungkus menggunakan kain tipis atau handuk basah sebelum diletakkan di atas area yang cedera.
Durasi pengompresan yang ideal adalah selama lima belas hingga dua puluh menit pada satu sesi, dan dapat diulang kembali setiap dua jam sekali dalam kurun waktu dua puluh empat jam pertama setelah cedera terjadi. Pengawasan ketat harus dilakukan untuk memastikan sirkulasi darah ke area ujung jari tetap berjalan lancar selama proses terapi berlangsung. Jika kulit di sekitar area kompres mulai berubah warna menjadi putih pucat atau biru, terapi harus segera dihentikan.
