Dalam persiapan menuju kompetisi olahraga mahasiswa, ruang ganti sering kali identik dengan musik bertempo cepat yang membakar semangat. Namun, fenomena berbeda terjadi pada atlet di bawah naungan BAPOMI Pidie. Mereka mulai menerapkan penggunaan musik klasik sebagai bagian dari rutinitas latihan dan persiapan pertandingan. Tren ini didasarkan pada sebuah teori psikologi populer yang dikenal sebagai Efek Mozart di Lapangan. Musik klasik, dengan struktur komposisinya yang kompleks namun teratur, dipercaya mampu merangsang kognisi dan memberikan dampak fisiologis yang positif bagi para atlet mahasiswa sebelum mereka bertanding di arena yang panas.
Penerapan musik klasik ini bukan tanpa alasan ilmiah. Riset menunjukkan bahwa ritme dalam musik klasik, terutama karya-karya Mozart, memiliki frekuensi yang dapat membantu menyeimbangkan gelombang otak. Bagi atlet BAPOMI Pidie, mendengarkan musik ini berfungsi untuk menurunkan tingkat kecemasan pra-pertandingan yang sering kali menyebabkan otot menjadi kaku. Saat mendengarkan komposisi simfoni, detak jantung cenderung melambat dan menjadi lebih stabil, yang sangat krusial bagi cabang olahraga yang membutuhkan presisi tinggi seperti memanah, menembak, atau bahkan strategi dalam olahraga tim.
Selain ketenangan, Musik Klasik juga diyakini dapat meningkatkan fokus spasial-temporal. Kemampuan ini sangat penting bagi seorang atlet untuk membayangkan posisi mereka di lapangan dan memprediksi pergerakan objek atau lawan. Dengan playlist yang dikurasi secara khusus, mahasiswa di Pidie dilatih untuk masuk ke dalam kondisi mental yang disebut “relaxed alertness” atau kewaspadaan yang rileks. Mereka tetap sadar sepenuhnya dan siap beraksi, namun tanpa ketegangan saraf yang berlebihan. Hal ini membuat pengambilan keputusan di lapangan menjadi lebih jernih dan tidak terburu-buru oleh emosi sesaat.
Inisiatif yang diambil oleh BAPOMI Pidie ini merupakan langkah inovatif dalam menggabungkan seni dan sains olahraga. Musik klasik digunakan tidak hanya saat istirahat, tetapi juga selama sesi pemanasan tertentu untuk membangun ritme gerakan yang harmonis. Para pelatih menyadari bahwa koordinasi motorik kasar maupun halus dapat ditingkatkan jika atlet memiliki ritme internal yang baik. Musik klasik menyediakan pola ritme yang stabil dibandingkan dengan musik populer yang sering kali memiliki perubahan tempo yang drastis. Mahasiswa yang terbiasa dengan pola ini cenderung memiliki konsistensi gerakan yang lebih baik di lapangan.
