Menjadi seorang mahasiswa rantau memiliki tantangan tersendiri, apalagi saat bulan Ramadan tiba. Jauh dari keluarga berarti harus mandiri dalam menyiapkan segala kebutuhan, termasuk menu sahur dan berbuka. Di Kabupaten Pidie, yang menjadi salah satu pusat pendidikan di Aceh, ribuan mahasiswa dari berbagai daerah sering kali mengalami kesulitan dalam mengatur waktu dan anggaran makan mereka. Kehadiran layanan katering ramadan yang dikelola secara kolektif oleh organisasi mahasiswa kini menjadi tren positif yang sangat membantu kehidupan di asrama maupun kos-kosan.
Masalah utama yang dihadapi oleh anak kost adalah keterbatasan alat memasak dan waktu yang tersita untuk tugas kuliah. Layanan katering ini hadir sebagai penyelamat mahasiswa yang sering kali melewatkan waktu makan karena kelelahan atau kehabisan uang di akhir bulan. Dengan sistem berlangganan yang murah meriah, mereka bisa mendapatkan kepastian makanan yang bergizi tanpa harus keluar mencari warung di tengah cuaca yang kadang tidak menentu. Mahasiswa pengelola katering ini biasanya adalah mereka yang memiliki minat di bidang kewirausahaan sosial, yang ingin membantu teman sejawat sembari belajar berbisnis.
Fokus utama dari katering ini adalah keberlanjutan hidup mahasiswa perantau selama satu bulan penuh. Menu yang disajikan tidak hanya enak, tetapi juga disesuaikan dengan standar kesehatan agar stamina para pencari ilmu ini tetap terjaga untuk mengikuti perkuliahan dan ujian. Pengelola sering kali memberikan bonus berupa takjil atau vitamin tambahan di hari-hari tertentu. Di Pidie, kolaborasi antara mahasiswa rantau dan pemilik warung makan lokal terjalin sangat erat melalui skema ini, di mana pemilik warung memberikan harga khusus untuk pesanan dalam jumlah besar yang dikoordinir oleh mahasiswa.
Keunggulan dari sistem katering kolektif ini adalah kemampuannya dalam memitigasi pemborosan uang saku. Dengan membayar di awal, mahasiswa bisa lebih disiplin dalam mengelola keuangan mereka selama Ramadan. Tidak jarang, katering ini juga menyediakan skema subsidi silang, di mana mahasiswa yang mampu secara ekonomi membayar sedikit lebih mahal untuk membantu menutupi biaya makan rekan mereka yang benar-benar kesulitan. Nilai-nilai solidaritas seperti inilah yang membuat layanan katering ramadan memiliki jiwa sosial yang kuat, lebih dari sekadar transaksi jual beli makanan pada umumnya.
