Dalam dunia olahraga kompetitif, ada anggapan bahwa semakin keras seseorang berlatih, semakin besar peluang mereka untuk menang. Namun, bagi atlet mahasiswa yang harus membagi waktu antara jadwal kuliah yang padat dan latihan fisik yang berat, batas antara dedikasi dan kelelahan ekstrem sering kali menjadi kabur. Ketika seorang atlet merasa peforma turun meskipun frekuensi latihan ditambah, besar kemungkinan mereka sedang mengalami fenomena yang disebut Overtraining Syndrome (OTS). Bapomi Pidie memberikan perhatian khusus pada isu ini karena dampaknya tidak hanya pada fisik, tetapi juga pada prestasi akademik mahasiswa.
Overtraining bukan sekadar rasa lelah biasa setelah latihan. Ini adalah kondisi di mana tubuh tidak lagi mampu pulih dari stres latihan yang menumpuk. Bagi perenang di Pidie, gejalanya bisa terlihat dari waktu tempuh yang melambat, hilangnya nafsu makan, hingga gangguan pola tidur. Bapomi Pidie melihat bahwa banyak mahasiswa yang memaksakan diri berlatih di pagi buta sebelum kuliah dan kembali ke kolam di sore hari tanpa memberikan waktu istirahat yang cukup bagi sistem saraf pusat untuk melakukan regenerasi sel.
Dampak Psikologis dan Fisiologis pada Atlet Mahasiswa
Kondisi ini sering kali diperparah oleh tekanan mental. Mahasiswa atlet tidak hanya dituntut untuk unggul di lintasan renang, tetapi juga harus menjaga indeks prestasi di kampus. Stres ganda ini memicu peningkatan hormon kortisol dalam tubuh yang justru bersifat katabolik atau merusak otot. Bapomi Pidie bahas bagaimana kelelahan mental dapat menurunkan tingkat fokus, yang berujung pada menurunnya efisiensi gerakan di dalam air. Alih-alih menjadi lebih cepat, gaya renang atlet justru menjadi berantakan karena otot-otot kecil stabilisator sudah terlalu lelah untuk bekerja.
Secara fisiologis, overtraining dapat melemahkan sistem imun. Atlet yang terlalu lelah akan lebih mudah terserang flu atau infeksi ringan lainnya, yang pada akhirnya justru membuat mereka absen dari latihan dalam waktu yang lebih lama. Ketidakseimbangan hormon juga dapat menyebabkan perubahan suasana hati (mood swings), membuat atlet merasa demotivasi dan kehilangan gairah terhadap olahraga yang mereka cintai. Hal ini adalah kerugian besar bagi pembinaan atlet usia muda di daerah.
