Menjadi seorang mahasiswa berprestasi sekaligus atlet andalan daerah adalah sebuah tantangan yang tidak mudah, terutama bagi mereka yang berada di bawah naungan BAPOMI Pidie. Memasuki tahun 2026, tekanan akademik di perguruan tinggi semakin meningkat dengan banyaknya proyek penelitian dan tugas praktikum yang menyita waktu. Bagi para atlet, situasi ini seringkali menimbulkan masalah pada kondisi psikologis atau Menjaga Mood Latihan mereka. Ketika pikiran sudah lelah dengan buku dan laptop, memaksakan tubuh untuk berlari di lapangan seringkali terasa sangat berat.
Pihak BAPOMI Pidie menyadari bahwa performa fisik sangat bergantung pada kesejahteraan mental. Oleh karena itu, mereka mulai menerapkan strategi manajemen emosi yang dirancang khusus untuk mahasiswa atlet. Rahasia utama untuk menjaga mood tetap stabil adalah dengan mengubah persepsi tentang latihan itu sendiri. Alih-alih menganggap latihan sebagai beban tambahan, para atlet diajarkan untuk melihat aktivitas fisik sebagai bentuk “pelarian sehat” dari kejenuhan akademis. Dengan olahraga, otak akan melepaskan hormon stres yang menumpuk selama kuliah, sehingga mahasiswa justru merasa lebih segar setelah berlatih.
Selain itu, BAPOMI Pidie juga menekankan pentingnya sistem dukungan antar sesama atlet. Dalam komunitas ini, mahasiswa tidak berjuang sendirian. Mereka berbagi keluh kesah tentang dosen yang pelit nilai atau tugas yang tenggat waktunya sangat mepet. Komunikasi terbuka ini menjadi katarsis yang sangat efektif. Ketika seorang atlet merasa didengar dan didukung oleh teman-temannya di lapangan, beban mentalnya akan terasa jauh lebih ringan. Suasana latihan yang penuh tawa namun tetap disiplin adalah kunci mengapa atlet di Pidie tetap konsisten meskipun jadwal kuliah mereka sangat padat.
Penerapan jadwal yang fleksibel namun bertanggung jawab juga menjadi rahasia sukses di bawah koordinasi BAPOMI Pidie. Mereka bekerja sama dengan pihak universitas untuk memastikan bahwa jadwal latihan tidak bentrok dengan ujian penting. Dengan adanya kepastian jadwal, atlet mahasiswa dapat mengatur waktu dengan lebih presisi. Mereka tahu kapan harus fokus 100% pada buku dan kapan harus beralih sepenuhnya ke mode atlet. Kepastian ini mengurangi kecemasan yang seringkali merusak mood latihan karena rasa bersalah meninggalkan tugas yang belum selesai.
