Masa akhir perkuliahan seringkali menjadi periode yang paling menantang bagi kesehatan mental mahasiswa. Tekanan untuk menyelesaikan tugas akhir atau skripsi sering memicu tingkat stres yang tinggi, kecemasan, hingga kelelahan emosional. Melihat fenomena ini, BAPOMI Pidie menghadirkan sebuah solusi yang tidak biasa namun sangat efektif. Mereka memperkenalkan program latihan bela diri khusus, di mana para pejuang skripsi diajak untuk menyalurkan emosi negatif mereka melalui aktivitas fisik yang intens, yakni dengan menggunakan samsak tinju sebagai media katarsis.
Program ini didasari oleh penelitian bahwa aktivitas fisik yang bersifat eksplosif dapat membantu melepaskan hormon endorfin yang berfungsi sebagai pereda stres alami. Dengan memukul Samsak Tinju, mahasiswa dapat melepaskan beban pikiran yang menumpuk setelah berjam-jam berkutat dengan literatur dan data penelitian. BAPOMI Pidie menyediakan fasilitas latihan yang inklusif, di mana mahasiswa dari berbagai jurusan dapat bergabung tanpa harus memiliki latar belakang sebagai atlet profesional. Fokus utamanya bukan pada teknik bertarung untuk kompetisi, melainkan pada manajemen stres dan kebugaran mental.
Banyak mahasiswa yang mengikuti program ini mengaku merasa lebih tenang dan memiliki fokus yang lebih baik saat kembali mengerjakan tugas mereka. Aktivitas fisik ini menjadi jeda yang sehat di tengah rutinitas akademik yang monoton. Selain itu, latihan tinju juga mengajarkan tentang disiplin dan daya tahan, dua hal yang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan skripsi tepat waktu. Melalui siasat kreatif ini, BAPOMI berhasil menciptakan lingkungan kampus yang lebih suportif terhadap isu kesehatan mental, sebuah hal yang seringkali terabaikan di lingkungan pendidikan tinggi.
Latihan rutin diadakan di sore hari, di mana mahasiswa berkumpul untuk berlatih bersama instruktur yang berpengalaman. Sesi latihan seringkali ditutup dengan diskusi ringan tentang kendala yang dihadapi dalam penulisan tugas akhir, sehingga tercipta rasa solidaritas antar sesama pejuang gelar sarjana. Hal ini sangat membantu mengurangi perasaan terisolasi yang sering dirasakan oleh mereka yang sedang menyusun skripsi. BAPOMI membuktikan bahwa olahraga memiliki fungsi sosial dan psikologis yang sangat luas jika dikelola dengan pendekatan yang tepat sesuai kebutuhan target sasarannya.
