Dunia perkuliahan di Kabupaten Pidie kini kedatangan sebuah tren yang cukup unik dan mengundang tawa sekaligus rasa penasaran. Jika biasanya mahasiswa mencari kenalan baru melalui aplikasi kencan atau organisasi kampus, kini muncul sebuah inovasi sosial bernama Cari Jodoh Sambil Lari. Sesuai namanya, kegiatan ini menggabungkan olahraga lari pagi dengan konsep ajang pencarian jodoh yang santai dan tanpa tekanan. Fenomena ini bermula dari keinginan mahasiswa untuk tetap aktif bergerak di tengah padatnya jadwal kuliah, namun tetap memiliki ruang untuk bersosialisasi secara organik dengan lawan jenis yang memiliki minat yang sama.
Kegiatan yang sering dilakukan di sekitar area kampus ini memiliki aturan main yang sederhana namun menarik. Para peserta biasanya diberikan pita dengan warna tertentu untuk menandakan status mereka—apakah sedang “mencari”, “ragu-ragu”, atau sekadar ingin “berteman”. Saat memulai lari, mereka didorong untuk berinteraksi dan berbincang ringan sepanjang lintasan. Suasana yang santai dan penuh tawa membuat kecanggungan yang biasanya muncul saat kencan pertama menjadi hilang. Olahraga menjadi media yang sangat efektif untuk menunjukkan karakter asli seseorang melalui cara mereka menyemangati orang lain atau mengatur tempo lari bersama.
Di wilayah Pidie, tren ini disambut baik karena dianggap sebagai cara yang lebih sehat dan positif untuk membangun relasi. Dibandingkan hanya sekadar duduk di kafe, bergerak bersama di udara segar memberikan energi yang jauh lebih baik bagi kesehatan mental mahasiswa. Banyak peserta yang mengaku bahwa mereka merasa lebih percaya diri saat bertemu orang baru dalam balutan pakaian olahraga. Tidak ada tekanan untuk tampil sempurna secara formal; yang ada hanyalah kejujuran dalam setiap tetes keringat. Hal ini menciptakan ikatan yang lebih tulus dan berbasis pada gaya hidup yang sehat.
Keunikan dari serunya konsep ini terletak pada spontanitasnya. Tidak jarang, obrolan yang dimulai dari menanyakan merek sepatu atau teknik lari berakhir pada diskusi mengenai tugas akhir atau hobi lainnya. Kampus-kampus di Pidie menjadi saksi bagaimana olahraga bisa menjadi jembatan komunikasi yang efektif antar fakultas. Tren ini juga mengurangi kecenderungan mahasiswa untuk terlalu bergantung pada gawai mereka, karena interaksi tatap muka secara langsung menjadi menu utama dalam setiap sesi lari bersama ini.
