Dalam dunia olahraga prestasi, tubuh adalah aset utama yang harus dijaga dengan sangat hati-hati. Risiko terjadinya Cegah Cedera selalu membayangi setiap atlet, baik saat latihan intensitas tinggi maupun ketika bertanding di lapangan. Menyadari hal tersebut, Bapomi mengambil langkah proaktif dengan membekali para atlet dan pelatih dengan pengetahuan medis praktis melalui sebuah pelatihan khusus. Tujuannya jelas, yakni meminimalkan masa absen atlet akibat gangguan fisik yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini jika ditangani dengan teknik yang benar.
Penyelenggaraan workshop ini menghadirkan para ahli fisioterapi dan praktisi kesehatan olahraga yang sudah berpengalaman menangani tim nasional. Materi yang diberikan tidak hanya bersifat teoretis, tetapi didominasi oleh praktik langsung. Para peserta diajarkan cara melakukan deteksi dini terhadap ketegangan otot yang berlebihan sebelum berkembang menjadi robekan atau peradangan kronis. Pengetahuan tentang anatomi dasar menjadi landasan agar setiap tindakan pemulihan yang dilakukan tidak justru memperparah kondisi fisik atlet yang bersangkutan.
Fokus utama dari pelatihan ini adalah teknik sport massage, sebuah metode pijat khusus yang dirancang untuk mempercepat pemulihan otot dan meningkatkan sirkulasi darah. Berbeda dengan pijat relaksasi biasa, pijat olahraga memerlukan penekanan pada titik-titik saraf dan otot tertentu yang paling banyak bekerja selama aktivitas fisik. Atlet mahasiswa diajarkan bagaimana melakukan pijat mandiri (self-massage) menggunakan alat bantu sederhana maupun tangan kosong. Kemampuan ini sangat krusial, terutama saat mereka sedang berada di luar daerah untuk bertanding dan akses ke tim medis profesional terbatas.
Antusiasme peserta di Kabupaten Pidie sangat tinggi, mengingat daerah ini dikenal sebagai salah satu lumbung atlet berbakat di berbagai cabang olahraga. Banyak peserta baru menyadari bahwa selama ini mereka sering mengabaikan fase pendinginan dan perawatan otot pasca-latihan. Melalui sesi tanya jawab, terungkap bahwa banyak mitos yang salah mengenai penanganan pertama pada keseleo atau memar. Workshop ini berhasil meluruskan persepsi tersebut, seperti kapan harus menggunakan kompres es dan kapan harus menggunakan terapi panas, yang sangat vital dalam proses penyembuhan.
